Aminullah Ingin Jadikan Banda Aceh Sebagai Leader Penegakan Syariat Islam

Banda Aceh – Wali Kota Banda Aceh, H Aminullah Usman SE Ak MM memiliki cita-cita mulia ingin menjadikan Banda Aceh sebagai leader dalam penegakan syariat Islam, sesuai dengan misi yang diusung Pemerintahannya ‘Banda Aceh Gemilang Dalam Bingkai Syariat’. Sebagai miniaturnya Aceh yang menerapkan syari’at Islam, Kota Banda Aceh harus menjadi barometer dan yang terdepan dalam penegakan syari’at Islam.

“Kami ingin menjadikan Banda Aceh sebagai leader dalam penegakan syari’at Islam. Kehadiran para Ulama, Ustadz, Teungku serta para peserta Muzakarah hari ini akan menjadi spirit bagi kami dalam pengamalan syiar dan penegakan Syariat Islam,” ujar Aminullah dihadapan puluhan ribu peserta Muzakarah Ulama Tauhid Sufi Internasional, Jum’at malam (13/7/2018) di lapangan tugu Unsyiah, Darussalam.

Dari Muzakarah ini, Aminullah berharap akan mendapatkkan masukan dan saran untuk pembangunan Kota Banda Aceh yang lebih baik. Dalam kesempatan ini, Aminullah juga mengucapkan terimakasih kepada panitia karena telah memilih Banda Aceh sebagai lokasi Muzakarah Ulama Tauhid Sufi Internasional tahun 2018.

“Kepada para Ulama, Abuya Amran Wali dan juga pak Plt Gubernur, Saya ucapkan terimakasih telah memilih Banda Aceh sebagai tuan rumah penyelenggaraan Muzakarah ini. Saya tegaskan Pemko dan masyarakat Kota selalu siap dan mendukung penuh kegiatan seperti ini,” ujar Aminullah disambut teriakan takbir dari puluhan ribu peserta Muzakarah. Sebagaimana diketahui, Muzakarah Ulama Tauhid Sufi Internasional diikuti oleh 30 ribu peserta dari seluruh dunia. Peserta datang dari Timur Tengah, Afrika, Asia Tenggara dan dari seluruh Indonesia. Kata Aminullah, warga Banda Aceh sendiri sangat antusias menyambut kegiatan ini berlangsung. Warga secara sukarela ikut berpartisipasi menyumbang konsumsi dan transportasi. Setiap harinya ada puluhan ribu bungkus nasi disumbangkan oleh warga kota untuk peserta muzakarah.

Dalam kesempatan ini, Wali Kota juga menyampaikan bahwa warga Banda Aceh dan Aceh secara umum sangat terbuka terhadap tamu dari belahan dunia manapun.

“Kami berharap para alim ulama, guru-guru kami semua dapat melihat dan merasakan sendiri bahwa Kota dan Warganya, dan Aceh secara umum senantiasa terbuka, ramah serta santun. Kami berharap semua yang hadir di Banda Aceh cukup nyaman selama melaksanakan Muzakarah ini,” ujar Aminullah seraya mengajak seluruh peserta untuk mengelilingi Banda Aceh, menikmati wisata dan kuliner yang menggugah selera.

Sebagaimana diketahui, Muzakarah Ulama Sufi Internasional akan berlangsung selama empat hari, yakni dari tanggal 13 s/d 16 Juli 2018.

Setelah seremonial pembukaan di lapangan Tugu Unsyiah, kegiatan muzakarah akan dilanjutkan di aula Auditorium UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Acara ditutup dengan zikir akbar di Masjid Raya Baiturrahman pada Senin malam.

Ketua panitia penyelengara, ini, DR Munawar A Jalil mengatakan, kegiatan Muzakarah Ulama Sufi Internasional dimaksudkan untuk memberi pemahaman menyeluruh terkait literasi tasauf.

“Melalui Muzakarah ini, kita juga ingin memberikan pesan kepada dunia bahwa syari’at Islam sangat toleran di Aceh. Pemahaman yang keliru tentang Aceh terjawab dari muzakarah yang kitabgelar hari ini,” ujar Munawar Jalil.

Muzakaran Ulama Tauhid dan Sufi Internasional Tahun 2018 mengusung tema ‘Tauhid Sufi Membangun Manusia Berakhlak Mulia’.

Muzakarah kali ini mennghadirkan pemateridari kalangan ulama dan akademisi dari dalam dan luar negeri, seperti Prof Yusny Saby (Guru Besar UIN Ar-Raniry), Syekh Dr Azis Kobaiti (Maroko), Syekh Dr Mahmoud Abu Al-Hauda (Syria), dan KH Zein Djarnuji (Jawa Barat). (mkk)

 
Link SKPD
Search
Arsip Berita
Tautan
GPR Kominfo