Kepala SKPD Harus Mampu Terjemahkan Visi Misi Kota Banda Aceh

Banda Aceh – Walikota Banda Aceh Hj Illiza Saaduddin Djamal SE melakukan evaluasi terhadap kinerja Kepala SKPD di jajaran Pemerintah Kota Banda Aceh. Semua Kepala SKPD, Jumat (18/9/2015) hadir menyampaikan sejauh mana progres program yang telah dijalankan kepada Walikota dan Sekdakota. Kegiatan dilaksanakan di Aula lantai IV Balaikota Banda Aceh.

Seusai memimpin rapat evaluasi kinerja, Illiza langsung bereaksi dan mengumumkan mengganti Kepala SKPD yang dinilai tidak mampu menterjemahkan Visi Misi yang diusung pemerintahannya.

Di depan Kepala Dinas, Kepala Badan, Kepala Kantor dan para Camat, Illiza menyampaikan keputusan Baperjakat Kota Banda Aceh membebastugaskan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banda Aceh, Fadhil S Sos. Untuk sementara, Illiza menunjuk Drs Ridha MM sebagai Plt Kadisbudpar Kota hingga menemukan pejabat definitif beberapa waktu kedepan lewat sebuah proses seleksi lelang jabatan sesuai undang-undang ASN yang saat ini sedang di godok di tingkat Nasional.

Penggantian posisi Fadhil juga disampaikan Illiza kepada para wartawan saat konferensi pers diruang rapat Walikota sesaat setelah selesai rapat evaluasi kinerja. Kepada awak media, Illiza mengisyaratkan setiap Kepala SKPD Pemko Banda Aceh harus mampu menterjemahkan visi misi Kota Banda Aceh menjadi model Kota Madani.

Fadhil S Sos dinilai tidak mampu menterjemahkan dan menjabarkan visi misi Kota Banda Aceh dalam program dan kegiatan yang dilakukan Disbudpar Kota. Salah-satu indikatornya adalah gelaran Piasan Seni tahun 2015 yang digelar di Taman Sari, di mana penampilan tarian India menampilkan sesuatu yang tidak sesuai dengan semangat penerapan syariat Islam dan mengundang keresahan masyarakat.

Illiza menyatakan setiap kegiatan termasuk pentas seni dan budaya yang digelar di Banda Aceh tidak boleh bertentangan dengan syariat Islam.
“Jangan paradoks terhadap syariat Islam dan merusak misi dakwah kita mewujudkan Banda Aceh sebagai Model Kota Madani” tegasnya.

Meski dalam ToR kegiatan yang digelar oleh Disbudpar Kota Banda Aceh itu, memang disebutkan tarian tersebut untuk merefleksikan sejarah hubungan kedekatan Aceh dengan India.
“Meski di endingnya tarian India itu adalah keinsyafan, namun tarian awal yang ditampilkan sudah membuat warga kota resah, dan hal ini bukan hal lumrah dan biasa bagi warga kita,” kata Illiza.

Kepada warga Kota, Illiza meminta maaf atas keresahan yang ditimbulkan akibat kejadian tersebut. Illiza juga mengharapkan kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi para pejabat, karena sedikit saja kekeliruan yang dilakukan dalam menjalankan amanah akan berdampak pada tidak sampainya misi dakwah yang ingin disampaikan kepada masyarakat dalam rangka mewujudkan Banda Aceh sebagai model Kota Madani. (Mkk)

Link SKPD
Search
Arsip Berita
Tautan
GPR Kominfo