Visi Banda Aceh Kota Madani Harus Dimulai dari Gampong

Banda Aceh – Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh melalui Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Banda Aceh menyerahkan satu set perlengkapan adat peusijuek kepada ibu-ibu PKK Gampong Neusu Jaya, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh.

Ketua MAA Kota Banda Aceh Sanusi Husein SSos, dalam kata sambutannya mengatakan, sejatinya prosesi peusijuek bukanlah suatu kewajiban dalam agama Islam, tapi sebagai alat atau simbol.

“Ada yang bilang peusijuek bukan milik Islam. Menurut hemat kami, peusijuek adalah simbol, seperti daun sineujuek yang melambangkan kesejukan dan air tepung tawar sebagai kebersihan hati. Kemudian warna-warna (kain) yang dipakai, yakni kuning yang merupakan warna kerajaan, merah berani, dan hijau warna keagamaan.”

“Hal utama adalah syariat dan kemudian didukung oleh adat. Kalau ada yang bertentangan dengan syariat, itu bukan budaya kita, seperti perayaan malam tahu baru masehi yang jelas-jelas melanggar syariat, dan Banda Aceh dalam dua tahun terakhir tidak merayakannya. Semoga ini terus berlanjut.”

Pada tahun ini, katanya, karena keterbatasan anggaran, hanya 15 gampong di Banda Aceh yang akan mendapatkan bantuan perlengkapan adat peusijuek dari pemerintah. “Kami berikan perdana untuk Gampong Neusu Jaya untuk kegiatan-kegiatan adat gampong. Ini mohon dijaga baik-baik,” sebutnya.

Ia menambahkan, pengaruh budaya luar saat ini luar biasa di Aceh, khususnya Banda Aceh. “Namun kita seakan membiarkan, seakan-seakan itu budaya kita sendiri. Pengaruh budaya luar masuk melalui media TV maupun HP di saku kita sendiri maupun anak-anak kita.”

“Tugas ibu-ibu yang lebih berat. Pakaian remaja putri kita saat ini yang jauh dari kata islami salah satu contohnya. Belum lagi sikap kebersamaan yang juga sudah mulai memudar di masyarakat kita, kini orang mulai hidup nafsi-nafsi,” katanya dalam acara yang digelar di Kantor Keuchik Neusu Jaya, Selasa (3/2/2014).

Kejayaan Aceh, sambungnya, perlu diangkat seperti kejayaan pada masa Sultan Iskandar Muda dahulu. “Visi Banda Aceh menjadi model kota madani harus dimulai dari tingkat gampong. Ini tantangan bagi kita semua. Mari kita kuatkan adat dengan reusam atau aturan-aturan gampong,” sebutnya lagi.

Staf Ahli Wali Kota Banda Aceh Bidang Keistimewaan Kemasyarakatan dan SDM, Bakhtiar SSos, yang turut hadir pada kesempatan itu mewakili Wali Kota Banda Aceh Hj Illiza Saaduddin Djamal SE, juga menyampaikan kata sambutannya.

Menurutnya, semua pihak termasuk perangkat gampong perlu menghidupkan adat istiadat yang sesuai dengan sendi-sendi agama. “Sehingga kita bisa membentengi diri dari pengaruh luar seperti aliran sesat yang marak akhir-akhir ini.”.

Para keuchik juga diminta mengadakan program-program untuk membentengi desanya masing-masing. “Agama hidup, adat hidup. Alat peusijuek ini hanya sebagai pengingat, karena dulunya ini wajib ada di tiap-tiap rumah, ga perlu diberi oleh pemerintah. Semoga adat istiadat Aceh dapat terus ada sampai anak cucu kita,” pungkasnya.

Bachtiar kemudian menyerahkan satu set perlengkapan adat peusijuek tersebut kepada Keuchik Gampong Neusu Jaya Abdul Mukti, untuk selanjutnya diserahkan kepada ketua PKK setempat.

Permohonan Pembangunan Kantor Keuchik

Sebelumnya saat menyambut kedatangan rombongan MAA dan staf ahli wali kota, Keuchik Abdul Mukti mengatakan pihaknya sangat bersyukur dan berterimakasih dengan adanya perlengkapan adat peusijuek dari MAA tersebut.

Kesempatan itu juga dimanfaatkan keuchik untuk menyampaikan permohonan pembangunan sebuah gedung kantor keuchik yang baru dan sekaligus menjadi gedung serba guna.

“Kantor yang sekarang masih berstatus pinjam pakai dari pihak TNI, dan jika diperlukan dapat saja diambil sewaktu-waktu,” katanya.

Permohonan tersebut, katanya, sudah disampaikan pihaknya sejak masa wali kota dijabat oleh almarhum Mawardy Nurdin. “Untuk lahan pembangunan kantor keuchik sudah sudah ada, mohon dukungan dari pak staf ahli,” pintanya. (Jun)


SHARE: