//Escape Building; Gedung Multifungsi Promosi Produk Lokal

Escape Building; Gedung Multifungsi Promosi Produk Lokal

oleh rini wulandari-Guru SMAN 5 Banda Aceh

Beberapa gedung evakuasi bencana (escape building) dibangun dititik rawan tsunami paska bencana besar 2004 silam.Sayangnya bangunan-bangunan kemudian tersebut kemudian tidak dioptimalkan pengunaannya. Selain untuk kegiatan evakuasi ketika terjadi bencana, juga digunakan untuk kegiatan seremoni atau kegiatan lingkungan yang dilaksanakan oleh beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Universitas Syiah Kuala atau Dinas Pemerintahan terkait. Padahal gedung setinggi 4 lantai , yang berada di Desa lambung, Deah Geulumpang dan Alue Deah Teungoh tersebut dibangun dengan dana besar. Gedung Escape Building tersebut merupakan bagian dari Project Urgent Rehabilitation and Reconstruction Plan (URRP) bantuan Pemerintah Jepang melalui JICS.

Ketika pihak Pemerintah Kota Banda Aceh berinisiatif menjadikan gedung escape building sebagai gedung yang multi fungsi, adalah sebuah gagasan yang harus kita dukung bersama. Gagasan ini sejalan dengan visi besar pemerintah Kota Banda Aceh di bawah kepemimpinan Aminullah dan Zainal untuk mewujudkan Banda Aceh Kota Gemilang Berbingkai Syariat.

Selain sebagai sarana edukasi kebencanaan, gedung ini dapat difungsikan sebagai ruang pameran, ruang kreatifitas remaja dan pemuda, serta ruang kegiatan keagamaan, sarana pengembangan prestasi keolahragaan. Dan dalam kerangka yang lebih positif, menjadikan escape building sebagai ruang untuk memasarkan dan mempromosikan produk lokal akan mendorong tumbuhnya semangat berwirausaha, menumbuhkan kreatifitas warga kota untuk menciptakan produk kerajinan lokal atau produk makanan lokal karena ketersediaan tempat yang representatif.

Dalam Upaya pengembangan ekonomi di tingkat lokal, setidaknya dibutuhkan beberapa peremajaan untuk peningkatan mutu atau kualitas produk lokal yang ada. Faktor Branding (merek), Packaging (kemasan) dan Marketing (Pemasaran) harus menjadi perhatian yang lebih intensif dan serius. Mengapa, karena seiring meningkatnya persaingan di dunia usaha, produk di pasaran akan bersaing dalam semua hal termasuk dalam tiga komponen tersebut. Bagi pengusaha lokal yang tidak mengikuti perkembangan tersebut akan tertinggal. Pembeli akan membeli produk atau barang yang mereknya unik, kemasannya menarik dan sistem pemasarannya bisa menjangkau banyak konsumen di banyak tempat. Tidak hanya di tingkat lokal, namun juga di tingkat nasional bahkan tidak mungkin di tingkat internasional.

Apalagi dalam beberapa hari lalu baru saja diselenggarakan Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle Working Group on Tourism ke-11 (IMT-GT WGT) khusus bidang pariwisata. Melalui pertemuan tersebut kerjasama pariwisata antara ketiga negara melalui skema Sabang-Puket-Langkawi (SAPULA) akan menjadi magnet baru masuknya wisatawan ke Aceh. Tentu saja ini akan menjadi peluang dan berita menggembirakan bagi para pengusaha lokal untuk memasarkan produknya,

Sehingga inisiatif Pemko Banda Aceh memiliki momentum yang sangat tepat untuk memajukan pengusaha kecil, mendorong wisata tematik bencana sekaligus untuk melaksanakan visi besar menjadikan Banda Aceh Kota Gemilang Berbasis Syariat.

Sebagai warga kota yang baik adalah kewajiban kita mensukseskan dan mendukung promosi produk lokal karena dengan keterlibatan dan  kerja keras kita semua cita-cita besar itu pasti akan terwujud. Yuk kerja, kerja, kerja!.

seorang cekgu, hobi mengajar, mencintai buku, penyuka fotografi, videografi dan menulis.