//IMT GT WGT MELEJITKAN PARIWISATA ACEH

IMT GT WGT MELEJITKAN PARIWISATA ACEH

Oleh Rini Wulandari-Guru SMAN 5 Banda Aceh

Sebuah kebanggaan bagi kita, karena Banda Aceh menjadi tuan rumah pelaksanaan Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle Working Group on Tourism (IMT-GT WGT) ke-11 pada akhir Juli 2018 lalu. Forum yang membahas perkembangan pariwisata di tiga negara tersebut menjadi peluang besar bagi Aceh dalam mengembangkan dunia pariwisatanya.

Pariwisata Aceh memiliki potensi yang sangat besar. Tidak kurang dari 800 obyek wisata tersebar di seluruh Aceh. Termasuk didalamnya obyek wisata tsunami yang menjadi salah satu ikon penting pariwisata Aceh. Melalui forum tersebut Pemerintah Aceh akan lebih fokus dalam pengembangan potensi dalam poros Sabang-Puket-Langkawi (SAPULA) untuk meningkatkan kerjasama program pawisata di tiga negara tersebut.

Kita semakin optimis, apalagi Aceh memenangkan tiga kategori dalam Kompetisi Pariwisata Halal Nasional 2016 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Keunggulan tersebut meliputi; Destinasi Budaya Ramah Wisatawan Muslim Terbaik; Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) sebagai Bandara Ramah Wisatawan Muslim Terbaik dan Masjid Raya sebagai landskap dengan Daya Tarik Wisata Terbaik.

Prestasi tersebut menjadi dorongan bagi Dinas Pariwisata Aceh untuk menarik wisatawan semakin banyak berkunjung ke Aceh.  Pada tahun 2017 Aceh menargetkan 2,2 juta orang wisatawan Nusantara dan 100 wisatawan asing. Dan realisasinya sebesar 2.015.838 orang adalah pencapaian yang luar biasa yang harus terus kita tingkatkan. Rincian tiga besar daerah yang menjadi destinasi utama adalah; Banda Aceh 672.972 orang, Aceh Besar 582.765 orang dan Sabang sebanyak 530.415 orang. Obyek wisata tsunami dan wisata religi masih menjadi obyek destinasi wisata unggulan.

Prestasi tersebut sekaligus juga menjadi tantangan bagi Pemerintah Aceh untuk terus memperbaiki sarana dan prasarana pendukung agar para wisatawan semakin nyaman dalam kunjungannya. Sektor ini juga diharapkan menjadi penyumbang devisa atau menjadi penyumbang Pendapatan Asli daerah (PAD).

Perbaikan sarana prasarana kemudian harus didukung dengan konsep pengembangan pariwisata yang terintegrasi antar komponennya. Sejak di Bandara atau dipelabuhan para wisatawan sudah disiapkan rencana kunjungannya, baik untuk langsung kunjungan ke situs wisata maupun untuk menikmati kuliner atau mencari oleh-oleh untuk buah tangan sepulang dari kunjungan wisatanya.

Jika tidak terorganisir dan tidak terintegrasi dengan baik maka, selain kunjungan wisata menjadi tidak optimal, perkembangan obyek pendukung wisata seperti kuliner, oleh-oleh sebagai salah satu penyumbang devisa menjadi tidak maksimal. Begitu juga dengan tingkat kepuasan para wisatawan menjadi tidak optimal karena banyak waktu yang terbuang sia-sia, padahal dengan waktu kunjungan yang singkat, mereka pastilah berkeinginan untuk menikmati Aceh dengan segala jenis pariwisatanya secara memuaskan.

Kunjungan yang berkesan akan menjadi keuntungan bagi Aceh, apalagi jika kita menerima para wisatawan dengan ramah tamah, bukan dengan berlaku tidak ramah dengan menaikkan harga atau memberi layanan yang buruk. Sebagai daerah dengan syariah yang kuat, semestinya harus meninggalkan kesan  bahwa Aceh dengan syariatnya adalah sebuah daerah tujuan wisata yang ramah bagi siapa saja. Sekaligus membuktikan kebenaran Aceh sebagai pemenang dari ketiga kategori wisata nasional tersebut.  Semoga pariwisata Aceh akan semakin berjaya.

 

seorang cekgu, hobi mengajar, mencintai buku, penyuka fotografi, videografi dan menulis.