//Ketika Wali Kota Tergugah Penyandang Disabilitas

Ketika Wali Kota Tergugah Penyandang Disabilitas

 

Banda Aceh –Di penghujung Ramadan 1439-H, Aminullah Usman, wali Kota Banda Aceh, melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan menelusuri pasar Peunayong, Banda Aceh. Di tengah hiruk pikuknya pasar, tiba-tiba pandangan Aminullah mengarah ke sosok lelaki muda yang berteriak menawarkan kantong plastik.

Aminullah menghentikan langkah kakinya sembari menghampiri dan menyapa lelaki muda itu. Dialah Luqman, 20 tahun, seorang penyandang disabilitas. Luqman lahir dengan fisik yang tidak sempurna. Tapi, ia enggan hidup menjadi pengemis di persimpangan jalan.

Kesehariannya, Luqman berjualan plastik kresek seperti yang ia tawarkan ke Aminullah. Sambil duduk di lantai, Luqman tak berhenti menawarkan kantongan plastiknya kepada Aminullah. Ia tidak tahu bahwa orang tersebut adalah Wali Kota Banda Aceh.

Plastik kresek jualannya tampak berhamburan ketika Luqman begitu bersemangat mengambil plastik kresek menggunakan kakinya untuk diberikan kepada Aminullah. Kalimat yang diucapkannya tidak begitu jelas, padahal ia ingin menyampaikan sesuatu kepada Aminullah.

Luqman menyodorkan kakinya untuk bersalaman dengan Aminullah, dan Wali Kota ini pun langsung menyambut menggenggam kaki Luqman. Lelaki penyandang disabilitas itu baru tahu bila orang yang ada di hadapannya adalah seorang Wali Kota.

Dengan tangan terkepal kaku dan tak bisa memegang apapun, semangat Luqman tetap membaja. Luqman tak mampu mengontrol anggota tubuhnya sendiri, khususnya tangan. Hanya kaki dan jari jemari kakinya yang bisa ia andalkan untuk membantunya mengerjakan sesuatu.

Di pasar itu, sebenarnya ada dua penyandang disabilitas. Tapi entah mengapa Wali Kota lebih terenyuh menghampiri Luqman ketimbang penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda.

“Saya salut dengan anak disabilitas ini. Dia salah satu dari banyak disabilitas yang tidak punya kemampuan fisik, tapi mampu menunjukkan bahwa di balik keterbatasannya masih bisa berjuang mencari rejeki sendiri, walaupun hanya berjualan kantong plastik kresek,” kata Aminullah Usman.

Aminulah menambahkan biasanya orang seperti Luqman ini hanya duduk diam di rumah tidak bisa berbuat apa-apa. “Tapi dengan keterbatasannya Luqman mampu menunjukkan bahwa ia bisa bersosialisasi dengan masyarakat lainnya,” ujar Wali Kota.

Wali Kota terlihat kagum melihat Lukman mampu mengambil telepon pintar android dengan menggunakan jari kakinya. “Luqman mencatat nomor saya, ia juga mampu menulis nama saya di androidnya. Waktu saya baca ternyata benar tertera nama Pak Amin,” kata Aminullah.

Wali Kota berjanji akan meminta Dinas Perindagkop untuk menjadikan Luqman sebagai aset kota Banda Aceh. Luqman harus diberi kesempatan mengembangkan dagangannya karena ia mencari uang sendiri, bukan meminta-minta.

“Menurut saya, ini sangat luar biasa dan harus kita contoh. Banyak penyandang disabilitas lain yang menggantungkan hidup dengan meminta-minta di jalanan, berbeda dengan Luqman. Dia telah menggugah hati saya,” kata Aminullah.