//Kisah Lebaran Penghuni Wisma Melur

Kisah Lebaran Penghuni Wisma Melur

Kisah Lebaran Penghuni Wisma Melur

Oleh: Fitriana

Melur, ya itu yang tertulis disalah satu wisma Panti Jompo ini. Seperti nama salah satu jenis bunga. Melur merupakan satu diantara 10 wisma yang ada. Disetiap wisma terdapat 5 kamar dimana setiap penghuninya mendapat jatah 1 kamar/orang. Ruangan ini lumayan luas. Pada bagian depan ruangan terdapat satu televisi, meja untuk menaruh beberapa hal-hal yang dibutuhkan, beberapa kursi lipat berwana merah dan terdapat pula sebuah cermin, tergantung pada dinding dan dihiasi pula satu jam dinding. Tidak ketinggalan kursi dan meja tamu untuk tempat menyambut tamu yang datang berkunjung dan sebuah mesin jahit juga menjadi pelengkap wisma melur. Namun ada hal berbeda pada kunjungan ini, hanya terdapat 2 lanjut usia (lansia) di wisma ini. Tiga lainnya sudah pulang ke kampung halamannya.

 Wisma Melur tampak pada bagian depan

Lebaran merupakan istilah lain dari hari raya yang merupakan salah satu hari besar bagi umat Islam. Hari raya terbagi dua, hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha. Bagi sebagian besar umat Islam, suasana lebaran diisi dengan berbagai kemeriahan, mulai dari mempersiapkan hal-hal yang baru, seperti baju baru, sepatu baru bahkan ada yang sampai furniture baru. Berkumpul bersama keluarga merupakan tradisi setiap lebaran tiba. Namun bagaimanakah perasaan bila berlebaran jauh dari kata berkumpul bersama keluarga dan itu bertempat di panti jompo?

-Introduction

Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Rumoh Seujahtra Geunaseh Sayang merupakan salah satu dari UPTD di lingkungan Dinas Sosial Pemerintah Aceh yang mengurus secara khusus para lanjut usia yang mempunyai permasalahan sosial ataupun terlantar  (sumber: website Dinas Sosial Aceh).

Para lanjut usia tersebut diterima untuk disantuni dan diasramakan di wisma-wisma agar mereka dapat terpenuhinya kebutuhan hidupnya. Salah satu tujuan didirikannya UPTD ini adalah untuk memberikan jaminan kehidupan secara wajar melalui bimbingan fisik, mental, ketrampilan, pelayanan kesehatan dan sosial sesuai dengan tatanan syariat Islam agar mampu melaksanakan fungsi sosialnya (sumber: website Dinas Sosial Aceh).

-Penghuni Wisma Melur

Nurkayah, itulah namanya. Usianya sudah lebih dari setengah abad, sekitar 65 tahun. Seorang janda dari kabupaten Simeulue. Ia ditinggal mati suaminya sejak sebelum Gempa dan Tsunami yang melanda Aceh dan Nias tahun 2004 silam.

Nek Kayah, begitulah nama akrab panggilannya. Nenek yang tidak memiliki keturunan ini mengatakan bahwa dirinya sudah hampir 6 tahun menjadi penghuni Panti Jompo UPTD Rumoh Seujahtra Geunaseh Sayang Ulee Kareng, Kota Banda Aceh yaitu sejak tahun 2012. Ia juga mengatakan bahwa dirinya diantar oleh keponakannya untuk tinggal di panti ini. Ia merasa senang dan bahagia tinggal disini bersama teman-temannya yang baru, bisa bercanda dan tertawa bersama, melakukan kegiatan bersama dan berbagai hal lain yang membuatnya jauh dari kata “galau”.

Wajahnya yang sudah mulai keriput dan usianya yang tak muda lagi membuatnya bercerita tentang awal mula ia berada dipanti ini dengan penuh hikmat. Ia duduk disebuah kursi yang terbuat dari rotan berwarna coklat muda dan sedikit corak coklat kehitaman. Berbalut baju berwarna merah muda dengan motif bola-bola putih dengan jelbab coklat muda mix coklat tua. Saat ditanyakan tentang suasana ramadhan dipanti tanpa berkumpul dengan keluarga, ia mengatakan bahwa dimanapun itu sama saja. Bahkan bila berada disini, ia lebih nyaman dan aman. Makan teratur, tidur teratur dan dilengkapi dengan berbagai kegiatan harian. Disela-sela Nek Kayah bercerita, keluar seorang temannya dari sebuah kamar. Ia juga penghuni wisma Melur.

Namanya Nurani, sudah menjalani genting pahitnya kehidupan sudah hampir 73 tahun. Tidak menunggu lama, Nek Nurani, sapaan akrabnya, langsung bergabung untuk membagikan pengalamannya sebagai penghuni panti selama hampir 14 tahun. Mereka sepertinya sudah sangat familiar dengan tamu-tamu yang hadir untuk di interview.

Nek Nurani mengatakan bahwa ia menetap disini sejak bencana maha dahsyat Gempa dan Tsunami melanda Aceh dan Nias tahun 2004 silam. Sebelumnya kakaknya juga merupakan penghuni UPTD ini, ia dulunya sering berkunjung untuk menjenguk kakaknya. Nek Nurani juga merupakan seorang janda dan tidak memiliki keturunan sama halnya dengan Nek Kayah.

Pasca bencana Ie Beuna, disaat itulah ia memutuskan untuk menetap di panti ini. Hal ini ia lakukan karena tempat tinggalnya yang berada di kawasan ibukota kabupaten Aceh Jaya, Calang, hancur total, hanya puing-puing bangunan yang tersisa. Calang merupakan salah satu kawasan pesisir barat Provinsi Aceh yang mengalami kerusakan terparah pada bencana yang sangat maha dahsyat pada 26 Desember 2004 silam. Selain itu juga karena pengalaman kakaknya yang membuat ia yakin untuk berada disini. Ketika pertanyaan ditanyakan tentang perasaan berada dipanti, ia menjawab, “Enak disini, kan ditanggung semua”, ujarnya.

Nenek yang mengenakan baju bermotif bunga hijau bercampur coklat dan dipadukan dengan jelbab hitam ini juga mengatakan bahwa ia bahagia berada disini. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Bersama dengan Nek Kayah, ia menjelaskan kegiatan-kegiatan yang ada di panti jompo yang berada di Gampong Lamglumpang, kecamatan Ulee Kareng, Kota Banda Aceh ini yaitu pada hari Senin-Jumat mengikuti pengajian bersama ustaz-ustazah, hari Kamis mengikuti senam lansia dan setiap hari Jumat para lansia mengikuti wirid. Namun untuk senam lansia, pada bulan suci ramadhan ditiadakan.

Dari kiri ke kanan, Tamu, Nek Nurani, Nek Kayah, Penulis

Saat kunjungan berlangsung yaitu pada 29 Ramadhan 1439 H atau bertepatan dengan  14 Juni 2018. Saat ditanyakan perihal lebaran di panti, keduanya memberikan jawaban yang sama bahwa disini pun seperti dikampung sendiri. Melaksanakan shalat Idul Fitri bersama, berkumpul dan saling maaf-memaafkan satu sama lain. Tidak ada rasa sedih yang mendalam yang terkesan pada kedua lansia ini. Mereka selalu tersenyum menceritakan pengalaman-pengalamannya.  Bahkan sesekali bercanda satu dan lainnya.

Mereka terlihat sangat akrab karena sudah bersama setiap hari bahkan bertahun-tahun lamanya. Walaupun mungkin ada sedikit kesedihan yang tersimpan dilubuk hati, dimana keluarga lainnya bisa berkumpul bersama dihari-hari besar umat Islam, sementara keduanya berkumpul bersama teman sejawat diwisma ini.

Jam sudah menunjukkan tepat pukul 17.00 WIB. Keduanya terus menceritakan berbagai pengalaman di panti. Seorang perawat juga datang untuk menanyakan keluhan yang dirasakan kedua lansia ini. Mereka dengan semangatnya mengutarakan keluhan yang dialami. “Sakit keu-ieng, saket ule bacut”, ujar Nek Nuraini. “Peue lom yang saket nek”, tanya sang perawat. Nek kayah dan Nek Nurani terus mengutarakan keluhan yang dialami.

Sementara itu, dari bagian luar terdapat 2 kursi memanjang terbuat dari kayu. Kursi ini juga dipergunakan untuk menyambut para tamu yang datang atau untuk sekedar bersantai menikmati dinginnya angin yang bertiup pada sore harinya.

Foto bersama kedua lansia Wisma Melur tampak pada bagian luar

Sepenggal kisah kedua lansia ini memberikan sedikit jawaban tentang ribuan pertanyaan tentang kehidupan dipanti jompo pada saat lebaran tiba. Walaupun Nek Kayah dan Nek Nurani tidak memiliki anak bahkan tidak ada keluarga yang bersamanya di waktu lebaran, mereka tetap berlebaran bersama teman-teman lainnya di UPTD ini. Bersyukurlah, itulah kata penutup kisah ini.