//Pulang

Pulang

” Tidak ada kata pulang sebelum adanya kepergian, tidak ada hal yang paling di nantikan perantauan selain pulang. “

Jarak yang tercipta di awal menimbulkan tanda tanya banyak, menjadi hal yang paling aku takutkan. Menjadi sesuatu yang pahit untuk ku telan. Menimbulkan benci karena aku merasa terasingkan. Dan sekarang aku mengerti mengapa Tuhan menjadikan ini salah satu jalan kehidupan.

Dan benarlah Allah berfirman,

وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّـهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216).

Ternyata Allah dengan caranya mejaga. Menjaga aku untuk tetap menimba ilmu dikesunyian Banda. Mendekatkan diri dalam berhijrah di persinggahan. Menjaga aku untuk tetap memelihara Cinta dalam kesendirian yang terasingkan. Cinta pada-Nya, Cinta pada Rasullah-Nya, Cinta kepada agama-Nya, dan pada banyak Cinta lainya.

Sebelumnya aku tak pernah menyangka ada di posisi sekarang. Sendiri dalam meniti tangga-tangga Tuhan di bulan Ramadhan. ini kali pertama aku melewati bulan Nan Suci bukan di tanah kelahiran. Ini pertama dan aku jatuh Cinta Ramadhan di Banda.

Dibelahan dunia manapun waktu berjalan 24 jam, tidak ada pembeda apalagi antara Jakarta dan Banda. Tapi disini, di kota yang orang bilang Serambi Mekah aku tak merasa di buru waktu untuk urusan dunia. Ada banyak perbedaan yang ada dari kebanyakan kota. Dari diamnya pemilik usaha makanan di siang hari buta sampai ramainya mesjid-mesjid bersuara mengagungkan pemilik semesta. Seolah aku dibuat untuk selalu mengingat-Nya.

Aku di buat jatuh Cinta kali pertama aku merasakan puasa di Banda. Aceh dengan syariat islamnya mampu membantuku mengendalikan nafsu. Menguji benar kesabaranku karna waktu berbuka selangkah lebih lama dari kampungku. Tapi tak mengapa, itu bagian dari mengkokohkan iman di perantauan.

Sejatuh-jatuh Cintanya aku pada Ramadhan di Banda, namun rasa rinduku pada keluarga mampu mengalahkan semuanya. Aku pulang melewatkan hari Kemenangan di Ujung Banda. Melepaskan kesempatan pertama menuju kembali Fitri dalam diri. Aku pulang demi berlebaran dengan keluarga yang aku tinggalkan. Aku pulang membawa cerita baru perihal pembaharuan imanku di perantauan. Aku pulang untuk kembali datang ke kota syariat Islam.
Aceh, Allah senantiasa memberkahi Mu. Membuat banyak orang jatuh Cinta pada tanah Rencong yang tercipta.

“Pulang ku untuk kembali datang menjamah mu (Aceh)”.