//Suasana Ramadan, Meugang dan Idul Fitri di Kota Banda Aceh

Suasana Ramadan, Meugang dan Idul Fitri di Kota Banda Aceh

1 Ramadhan 1439 H

Malam dimana dimulainya “bulan puasa” ini merupakan awal dari serangkaian hal menakjubkan yang terjadi di kota Banda Aceh setiap tahunnya. Dimulai dari salat tarawih dimana setiap masjid dan meunasah dipenuhi oleh jamaah baik yang tua maupun yang muda bahkan “shaf” sampai ke halaman mesjid. Saat salat tarawih berlangsung semua kegiatan yang lain seolah berhenti, barulah setelah tarawih selesai pasar serta warung kembali ramai. Namun, tidak sedikit pula masyarakat yang melanjutkan ibadahnya dimesjd maupun dirumah.
.
Saat pagi dan siang hari seluruh rumah makan maupun restoran sepenuhnya tutup. Hal ini hanya terlihat di daerah aceh khususnya Banda Aceh dikarenakan berlakunya syariat islam yang mana tidak ditetapkan pada kota-kota lain di Indonesia. Setelah ashar, para pedagang musiman mulai membanjiri lokasi-lokasi strategis di pinggir jalan, warung-warung mulai menyiapkan menu berbuka, dan warga mulai memburu menu-menu khas buka puasa. Masjid-masjid pun tak luput dari destinasi “ngabuburit”. Tercatat Masjid Raya Baiturrahman dan Masjid Agung Al-Makmur atau biasa disebut Masjid Oman selalu ramai saat sahur dan berbuka selama bulan Ramadhan. Setiap malam Ramadhan di kota Banda Aceh tak pernah sepi dari lantunan ayat suci Al-Qur’an dari selesai tarawih hingga menjelang sahur. Di Aceh sendiri tak terkecuali Banda Aceh, ada hal yang unik saat tadarus tersebut sudah khatam atau tamat yaitu diadakannya “kenduri tamat daroih (tamat tadarus)” sebagai bentuk rasa syukur atas pencapaian tersebut. Tradisi ini sendiri sudah berlangsung selama puluhan atau bahkan ratusan tahun.

29 Ramadhan 1439 H.

Kamis 14 juni kemarin merupakan hari terakhir puasa Ramadhan tahun ini. Pada hari -1 lebaran tersebut tampak penjual daging sapi di Banda Aceh dan sekitarnya bersuka cita. Pasalnya, daging sapi pada hari ini laris manis walaupun harga meningkat 10-15 persen dari harga biasanya. Tradisi yang disebut meugang ini sendiri merupakan tradisi turun-temurun yang dilakukan masyarakat aceh sejak abad ke-16 masehi saat kepemimpinan Sultan Iskadar Muda. Biasanya, tradisi ini berlangsung selama dua hari sebelum lebaran.

Tradisi meugang ini bukan hanya sekedar “makan daging” melainkan menjadi moment silaturrahmi dimana setiap anggota keluarga yang berjauhan, pada hari itu akan berkumpul pada satu meja yang sama mekimati makanan yang sama.

1 Syawal 1439 H

“27 peugot timphan, 28 teut bada, 29 peugot peunajoh, genap 30 meu-uroe raya,”. Merupakan ungkapan yang masih melekat pada orang tua sejak dulu. Hal ini dikarenakan memberikan jamuan pada tamu merupakan tradisi pada saat hari raya selain tradisi mengunjungi orang tua dan saudara, tak terkecuali di Banda Aceh.

Terhitung sejak selesai salat magrib pada 1 syawal, lantunan takbir berkumandang dari masjid dan menasah di seluruh kota Banda Aceh. Puncaknya setelah salat isya yaitu saat pawai takbir dimulai. Para peserta dari berbagai “gampong” tampak semangat lengkap dengan atributnya masing-masing. Begitu pula dengan mobil hias disertai sound system dan bedug siap menyemarakkan malam lebaran ini.

Jam menunjukkan pukul 07:00 saat jamaah salat Idul Fitri mulai memenuhi masjid Dan menasah di kota Banda Aceh. Beberapa masjid di kota Banda Aceh rutin mengundang Syeh dari Timur Tengah untuk menjadi imam salat Idul Fitri seperti Masjid Raya Baiturrahman dengan imam Syeh Muhammad Salim Amir dari Mesir.