Aminullah: Maulid Bisa Menjadi Objek Wisata Halal Andalan Banda Aceh

Banda Aceh – Dari kacamata Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman, Maulid Nabi bukan sekedar tradisi keagamaan saja. Tapi lebih daripada itu, maulid yang digelar secara besar-besaran di Aceh memiliki multiplier effect.

“Maulid nabi dapat membangkitkan ekonomi rakyat, menjadi destinasi wisata halal, dan juga ajang promosi beragam kuliner Aceh yang memiliki cita rasa yang khas dan tak ada di daerah lain,” ungkapnya.

Hal tersebut diungkapkan mantan Dirut Bank Aceh ini saat menghadiri undangan maulid di MIN 8 Banda Aceh di kawasan Lhong Raya, Selasa (8/1/2019).

Menurutnya, maulid atau peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang digelar selama tiga bulan penuh di Aceh merupakan bentuk kecintaan kepada baginda nabi. “Itu sudah jelas. Maulid juga sebagai ungkapan rasa syukur kita dilahirkan sebagai umat Rasulullah.”

“Namun di luar itu, coba bayangkan berapa besar perputaran uang yang terjadi pada setiap acara maulid. Berapa banyak pedagang kecil kita yang terbantu, tentu tidak sedikit. Maulid mampu membangkitkan ekonomi masyarakat,” ungkapnya.

Selain itu, tradisi maulid juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara maupun domestik. “Maulid nabi bisa menjadi objek atau destinasi wisata halal andalan di Banda Aceh di samping kegiatan keagamaan lainnya seperti zikir akbar, 1 Muharram, maupun kemeriahan Ramadan.”

“Bukan hanya karena rangkaian acara maulidnya saja seperti zikir, selawat, tausiah, dan doa bersama, tapi juga aneka ragam kuliner yang disajikan. Selain cita rasanya yang khas, kuliner Aceh sudah pasti halal, dan ini tentu sangat menarik bagi wisatawan yang ingin mencicipi ragam kuliner Aceh dalam satu momen,” ungkapnya lagi.

“Coba perhatikan, saat maulid semua kuliner khas Aceh pasti disajikan mulai dari Bu Kulah, Kuah Beulangong, Udeung Phep, Pacri, hingga aneka minuman dan kue. Dan hari ini saya melihat satu lagi kuliner Aceh yang begitu menggugah selera yakni Roti Jala plus kuah kari.”

“Dan saya rasa, Roti Jala ini layak dilabeli 3E: enak, enak sekali, dan enaaak sekali. Walaupun berasal dari India yang kemudian berkembang¬† juga di negara-negara Melayu, tapi Roti Jala kuah kari khas Aceh ini rasanya mantap sekali karena tercipta dari perpaduan kedua kawasan tersebut,” ungkapnya lagi.

“Jadi secara tidak langsung, dengan melestarikan maulid yang sudah menjadi tradisi endatu, kita juga sudah ikut melestarikan kuliner Aceh. Untuk itu, saya mengimbau agar setiap gampong, sekolah, dayah, instansi atau lembaga, perusahaan yang ada di Banda Aceh untuk menggelar maulid secara besar-besaran. Insyaallah akan banyak dampak positif yang kita peroleh,” pungkasnya. (Jun)

Link SKPD
Search
Berita Foto
Arsip Berita
Tautan
GPR Kominfo