Wali Kota Minta Dosen dan Mahasiswa USM Ikuti Kemajuan Teknologi

Banda Aceh – Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh, Sabtu (14/12/2019) menggelar seminar nasional multi disiplin ilmu. Seminar yang dihadiri para peserta dari berbagai daerah di Indonesia ini dibuka secara resmi oleh Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman di aula kampus yang terletak di Batoh tersebut.

Pembukaan seminar ini dihadiri Rektor USM, Said Usman, Rektor Unmuha, Muhharrir Asy’ari dan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah 13 Banda Aceh, Faisal dan para dosen USM.

Mengusung tema “Inovasi Produk Penelitian Pengabdian Masyarakat dan Tantangan Era Revolusi Industri 4.0” mendapat apresiasi dari Wali Kota Banda Aceh.

Saat membuka seminar ini, Aminullah menyampaikan apresiasi kepada Universitas Serambi Mekkah atas terlaksananya seminar nasional tersebut.

Kata Aminullah, Perguruan Tinggi termasuk USM sebagai salah-satu sumber inovasi memang dituntut untuk terus berpikir kritis menyikapi berbagai perubahan, sehingga diharapkan dapat terus menghasilkan karya-karya terbaiknya terutama untuk mengatasi berbagai permasalahan dalam menghadapi berbgai tantangan di era revolusi industri 4.0 saat ini.

 

 

Lanjutnya, bicara era 4.0 maka diperlukan pemahaman yang mendasar guna menciptakan generasi yang mampu bersaing dan menciptakan sesuatu yang inovatif serta dituntut lebih terampil, cerdas dan lebih kreatif. 

Wali Kota menambahkan, para dosen dan mahasiswa harus mampu mengikuti kemajuan teknologi dan memanfaakannya untuk meningkatkan kualitas sistem manajemen dan pengajaran kampus sehingga mampu bersaing ke taraf internasional.

“Harus mampu mengikuti kemajuan teknologi dan mampu bahasa asing. Kita berharap akan lahir alumni-alumni yang tidak melulu menjadikan cita-cita sebagai PNS,” kata Aminullah.

Dalam kesempatan ini, Wali Kota juga mengapresiasi USM yang telah menggelar seminar berlevel nasional dan menghadirkan banyak peserta ke Banda Aceh, Wali Kota juga menilai pihak USM telah mendukung program Pemko Banda Aceh yang mendorong adanya 1000 event dalam setahun.

“Yang kita maksudkan program 1000 event, ya seperti ini. Bukan hanya di gelar Pemko tapi juga pihak lain seperti Perguruan Tinggi. Ini tujuannya untuk menarik banyak orang datang ke Banda Aceh,” ungkap Aminullah.

Lanjutnya, dengan semakin banyak wisatawan yang datang maka akan semakin banyak uang yang beredar di Banda Aceh. Dan itu akan memberikan dampak bagi pergerakan ekonomi masyarakat kota dimana uang tersebut akan berputar untuk jasa transportasi, makanan, penginapan hingga oleh-oleh seperti souvenir.

“Saya mohon kepada peserta yang datang ke seminar ini, tolong habiskan SPPD-nya di Banda Aceh,” ujar Aminullah disambut tawa dan tepuk tangan seluruh peserta.

 

 

Kepada para peserta, Aminullah mengenalkan sekilas tentang Banda Aceh. Kota ini tidak memiliki lahan pertanian dan sumber daya alam. Sebagai ibukota dengan luas hanya sekitar 61 KM persegi, Banda Aceh mengandalkan sektor pariwisata, jasa, sektor kesehatan dan sektor pendidikan. 

Sebagai kota wisata, lanjutnya, Banda Aceh memiliki banyak destinasi menarik untuk dikunjungi seperti Masjid Raya Baiturrahman yang kental dengan sejarah Islam dan sejarah perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Kemudian ada destinasi wisata tsunami dan cagar budaya, kebudayaan dan kesenian. Aneka kuliner khas Aceh juga menjadi salah-satu buruan para wisatawan yang datang ke Banda Aceh. Kata Wali Kota, kuliner di Banda Aceh terkenal dengan 3E (enak, enak sekali dan enaaaaaaak sekali).

“Selain kuliner 3E, wisatawan juga wajib mencoba kopi yang terenak di dunia,” kata Aminullah.

Seminar nasional ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Prof DR Badaruddin MSi guru besar Universitas Sumatera Utara, Prof DR Abrar Muslim guru besar Universitas Syiah Kuala dan Prof DR Bansu Irianto Ansari guru besar Universitas Serambi Mekkah.[]


SHARE: