Wali Kota Temu Ramah Dengan Delegasi Higasimatsushima

 

Banda Aceh – Wali Kota Banda Aceh Hj Illiza Saaduddin Djamal SE mengadakan temu ramah dengan rombongan dari Kota Higashimatsushima, Jepang, di Ruang Rapat Wali Kota, Lantai III Balai Kota Banda Aceh, Selasa (23/12/2014), jam 14.00 WIB.

Rombongan tamu dari Negeri Sakura yang berjumlah 10 orang tersebut dipimpin oleh Nagami Kozo dari JICA TOHOKU dan Michiaki Omura Direktur HOPE (BRR-nya Kota Higashimastsushima).

“Saya sanggat senang dengan kedatangan anda semua di sini. Acara pameran kemarin sangat meriah dan banyak dibicarakan oleh masyarakat,” kata Illiza

Sejak Senin (22/12), Kota Banda Aceh dan Kota Higashimatsushima menggelar pameran foto dan produk olahan masyarakat dari kedua kota yang pernah luluh lantak akibat tsunami ini. Acara itu digelar di Escape Building, Gampong Lambung, Meuraxa, Banda Aceh.

“Semoga hubungan ini bisa terus berlanjut dan masyarakat Aceh bisa lebih mengenal budaya Jepang dan belajar bahasa Jepang. Pak Nagami dan kawan-kawan juga bisa belajar bahasa Aceh.”

Sementara Nagami, mengucapkan terimakasih kepada Wali Kota Banda Aceh dan jajarannya karena telah menyambut hangat kedatangan mereka di Banda Aceh. 

“Dari  hati yang paling dalam, kami ingin mengucapkan terima kasih, terutama kepada Wali Kota Illiza yang juga telah beberapa kali berkunjung ke kota kami”.

Kedatangan pihaknya ke Banda Aceh, kata pria yang juga fasih berbahasa Indonseia ini, untuk berdiskusi dengan masyarakat pasca 10 tahu gempa dan tsunami, terkait bantuan yang diterima dan keinginan untuk lebih maju.  

“Selama proses rehab dan rekon selama 10 tahun terakhir, saya sering kemari. Bukan proses pembangunan fisik, tapi hubungan antara sesama yang membuat saya terharu. Hubungan Higashimatsushima dan Banda Aceh sangat penting. Ini yang harus kita lanjutkan.”

Michiaki Omura Direktur HOPE, mengatakan, pihaknya dapat merasakan ekonomi Aceh terus berkembang, dan termasuk salah satu yang terbaik di Indonesia.

Di balik itu, sambung Omura, sampah dan kemacetan menjadi masalah baru bagi Banda Aceh. 


“Saat ini perlu dicari solusinya selagi masih kecil masalahnya, karena ke depan pasti bakal lebih besar dan komplek. Kami ingin belajar dari Banda Aceh dari sisi pertumbuhan ekonomi. Dalam hal itu kami masih tertinggal dari Banda Aceh.”

Menanggapi hal tersebut, wali kota mengatakan, pihaknya sudah mempunyai konsep waterfront city untuk membangun Banda Aceh masa depan. “Tahun depan kami juga akan memulai membangun flyover dan underpass di gerbang masuk kota. Walau fasilitas kami tentu tidak sebagus dan sehebat di Jepang, namun kami terus berusaha agar kota kami menjadi lebih baik,” kata Illiza.

Terkait proses perkembangan ekonomi masyarakat, lanjutnya, berdasarkan survei, tingkat kemiskinan di Kota Banda Aceh berangsur-angsur persentasenya terus berkurang. “Masyarakat Banda Aceh sudah mulai menjadi masyarakat yang mandiri dan melek teknologi serta banyak yang membuka usaha sendiri,” katanya. (Jun)

 


SHARE: