Kota Banda Aceh, sebuah kota di ujung barat pulau Sumatera yang tidak sekadar berdiri di atas tanah, tetapi tumbuh dari lapisan waktu yang sangat dalam, sebuah kota yang jejak sejarahnya bahkan sudah dimulai jauh sebelum konsep negara modern seperti hari ini ada.
Masa Kesultanan Aceh Darussalam
Jauh sebelum dikenal dengan nama Banda Aceh, wilayah ini adalah bagian penting dari Kesultanan Aceh Darussalam, sebuah kekuatan besar di Asia Tenggara pada abad ke-13 hingga 17. Di masa itu, kota ini bukan hanya pusat pemerintahan, tetapi juga pusat intelektual Islam dan perdagangan internasional.
Pusat Pendidikan Islam dan Perdagangan
Di masa jayanya, Bandar Aceh Darussalam dikenal sebagai kota regional utama yang merupakan pusat pendidikan Islam. Banyak pelajar dari Timur Tengah, India, dan negara-negara lainnya yang datang dan belajar di kota ini. Kapal-kapal dari Arab, Persia, India, hingga Eropa berlabuh di pelabuhannya, membawa barang, ide, dan budaya. Dari sinilah denyut peradaban di kawasan Selat Malaka berdenyut kuat, dan hal ini juga tercatat dalam sejarah Cheng Ho.
Warisan Budaya
Banda Aceh telah menjadi simpul dunia dari berbagai penjuru yang menyebabkan pembauran budaya. Hingga saat ini, warisan budaya tersebut masih dapat ditemukan di sudut-sudut kota, seperti budaya Pecinan di Gampong Peunayong, peninggalan kuburan Turki di Gampong Bitai, dan lonceng Cakradonya di Museum Aceh. Kota ini dikenal sebagai Serambi Mekkah atas peranannya yang penting dalam penyebaran Islam ke seluruh Nusantara.
Perubahan Nama dan Identitas
Kerajaan Aceh mencapai puncak kejayaannya saat dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Pada masa kolonial Belanda, kota ini dikenal sebagai Kutaraja hingga Indonesia merdeka. Pada tahun 1962, pemerintah resmi mengganti nama menjadi Banda Aceh, mencerminkan identitasnya sebagai bandar atau pelabuhan yang terbuka terhadap dunia.
Penetapan Hari Jadi
Untuk menentukan hari lahir kota Banda Aceh, diadakan seminar sejarah yang mempertemukan akademisi, budayawan, ulama, dan tokoh masyarakat. Melalui kajian mendalam terhadap naskah-naskah kuno, hikayat Aceh, dan catatan kolonial, disepakati tanggal 1 Ramadhan 601 H (22 April 1205 M) sebagai titik awal berdirinya pusat pemerintahan yang kemudian berkembang menjadi Banda Aceh.
Masa Kini dan Warisan
Setiap 22 April, Banda Aceh merayakan hari jadinya sebagai refleksi atas perjalanan panjang—dari kejayaan sebagai pusat peradaban, masa kolonial, hingga masa modern. Bahkan setelah tragedi Tsunami 2004, kota ini bangkit dengan daya hidup yang luar biasa. Hari ini, Banda Aceh berdiri sebagai kota yang memadukan sejarah dan masa depan, tetap hidup, beradaptasi, dan melangkah ke masa depan tanpa kehilangan jati dirinya.